Kamis, 07 Maret 2013

Bayangan Penyesalan

Bahkan sebelum aku memutuskan untuk... mencintaimu. Aku telah mengerti bagaimana kehidupanku setelah ini. Dan mengambil keputusan untuk menutupnya, juga telah kumengerti bagaimana jadinya aku nanti. Ya. Aku tau dengan semua konsekuensi yang telah aku ambil. Aku mengerti, bagaimana penyesalan-penyesalan itu menjeratku nanti. Aku tau. Aku tau. Rasa sakitnya tentu lebih kejam dibanding mencintaimu. Tentu saja, jauh lebih sakit.

Bahkan kalaupun nanti kita tidak bisa bersama (sungguh ini bukan keinginanku), mungkin aku adalah orang pertama yang menyesal. Yang kedua teman-teman baikku, dan kamu adalah orang yang kesekian yang menyesal. Tidak, aku tidak apa-apa. Bukankah sudah kukatakan aku telah mengetahui semua konsekuensinya? Itu artinya, aku sudah siap dengan kesakitan yang paling sakit, nanti. Yaaa, walaupun aku belum tau sanggup atau tidak, namun setidaknya aku sudah siap.

Apakah aku terdengar seperti berdoa atas hal buruk pada hidupku sendiri? Bukan, bukan begitu. Aku hanya mempersiapkan diriku sendiri. Karena aku selalu siap merajut bahagia denganmu, maka aku juga harus siap menyaksikan pergimu. Itu saja.

Rabu, 06 Maret 2013

Ada Aku

Jika kamu sedang buruk, ada mataku yang tak mungkin enggan memandangmu
Jika kamu ingin berbagi cerita, ada telingaku yang selalu bahagia mendengar, apapun
Jika kamu memerlukan sebuah kata, ada mulutku yang selalu siap mendamaikanmu
Jika kamu bersedih, ada bibirku yang mengurai tawamu
Jika kamu membutuhkan dukungan, ada tanganku sebagai perantara mimpimu
Jika kamu membutuhkan teman, ada kakiku yang akan menemanimu kemanapun
Jika kamu menangis, ada bahuku yang selalu kuat membantu menyangga bebanmu
Jika kamu merasa sendiri, ada hatiku yang akan memelukmu, kapanpun...

Minggu, 03 Maret 2013

Apa Kamu Juga?

Kalau aku lagi sedih, aku bisa tiba-tiba seneng kalau inget kamu. Apa kamu juga?

Kalau aku lagi kumpul sama temenku, aku suka nyeritain kamu ke mereka. Apa kamu juga?

Kalau kita lagi ngobrol, aku suka mencari-cari topik asal percakapan kita bisa lebih panjang. Apa kamu juga?

Kalau lagi nggak ada kamu, kepalaku suka nengok kanan kiri depan belakang buat nyariin kamu. Apa kamu juga?

Kalau aku lagi males ngerjain atau mengikuti sesuatu, aku bisa semangat kalo di sana ada kamu. Apa kamu juga?

Kalau aku lagi ada perlu sama kamu, aku suka malu-malu sama salah tingkah gitu waktu mau ngomong sama kamu. Apa kamu juga?

Kalau kita lagi ketemu tapi kamu nggak nyapa, aku sedih banget. Apa kamu juga?

Kalau aku diem, bukan berarti aku nggak peduli atau pengen ngejauhin kamu. Tapi karena aku lagi ngatur degup jantung aku yang selalu memuncak tiap ada kamu. Apa kamu juga?

Dan yang terakhir...
Kalau aku bilang aku suka sama kamu. Apa kamu juga?


Jumat, 01 Maret 2013

Seharusnya Kamu

Seharusnya kamu yang khawatir waktu aku tidur terlalu malam.
Seharusnya kamu yang rajin bertanya, "Kenapa belum tidur?".
Seharusnya kamu yang tidak bisa tidur jika aku belum tidur.
Seharusnya kamu yang memberiku lagu-lagu pengantar tidurku.
Seharusnya kamu yang membuatku tenang sebelum aku terlelap.
Seharusnya kamu yang mengucapkan selamat tidur.
Seharusnya kamu yang mengharapkanku untuk tidur nyenyak.
Seharusnya kamu yang mengharapkanku untuk mimpi indah.
Seharusnya kamu yang mengirim pesan "Selamat pagi" esok hari.
Iya, seharusnya kamu. Bukan dia.
Mengapa aku terdengar seperti tidak bersyukur?
Padahal aku hanya ingin merasakan jika kamu yang melakukanya.
Pasti berbeda, dan lebih terasa mendamaikan.


Surabaya, 02 Maret 2013. 00:34
Kamu mengerti aku belum tidur. Kamu tidak menyapaku, tidak terlihat mengkhawatirkanku. Dan membiarkan orang lain lagi yang melakukannya. Kacau.

Caraku Merindukanmu

Aku merindukanmu lagi. Dan seperti rindu-rindu sebelumnya, tak ada satupun yang sanggup kubawa ke tempatmu. Kau mengendalikan fikiranku lagi. Dan aku adalah orang yang terkadang bahagia menikmatinya, meski sering kali tersiksa.
Rindu itu sederhana, aku tau. Dan cara menyampaikan rindu tidak sederhana, aku juga tau. Aku memilih menjadi seorang pengecut yang berani merindukan, tanpa berani mengatakannya. Karena dalam fikiranku, "Aku tidak mungkin merindukan orang yang bahkan belum pernah menjadi siapa-siapaku." Dan aku lebih memilih mengemas rinduku dengan caraku sendiri.
Sekarang coba kau baca bagaimana caraku merindukanmu, dan bagaimana rasa sakitku saat merindukanmu.

Saat merindukanmu, aku lebih memilih menulis namamu di kertas, lalu aku pandangi namamu lekat-lekat. Itu tidak menyembuhkan rinduku, memang. Tapi aku merasa lebih baik.

Saat aku merindukanmu, aku lekas mengambil ponselku, mengetik "Aku merindukanmu" lalu aku mencari namamu di kontak. Setelah kutemukan namamu, aku menyimpannya di draft. Cukup hatiku dan Tuhan saja yang tau.

Saat aku merindukanmu, aku keluar rumah. Menghirup nafas dalam-dalam, sambil memandang langit, dan mengatakan, "Aku tau seharusnya aku tidak seperti ini. Namun jika rindu terlanjur meringsek, aku bisa apa?"

Saat aku merindukanmu, aku memilih memadukan huruf-huruf hingga membentuk namamu. Lalu aku mengejanya pelan-pelan. Itulah caraku untuk mencoba mengobati rinduku.

Saat aku merindukanmu, aku mendoakanmu. Menegaskan bahwa aku merindukanmu, berulang kali. Dan air mata yang menetes itu, tentu tidak sebanyak jumlah rinduku.

Saat aku merindukanmu, aku mengingat hal-hal yang pernah kita lakukan. Hal-hal yang tidak sengaja kita lakukan, dan tidak sengaja juga abadi di hatiku.

Ada banyak cara yang aku lakukan untuk membunuh rinduku. Namun kenyataannya, rindu-rindu yang kejam itu belum ingin musnah. Rasanya ingin aku memanggilmu untuk kusuruh memindahkan rindu ini. Namun aku gagal. Tak daya untuk mengusir rindu itu. Karena sama artinya aku mengusirmu dari kehidupanku
Kucoba untuk tidak merindukanmu, sekali lagi. Dan aku sungguh membenci kata mustahil.