Sabtu, 09 Maret 2013

Foto Pertama di Semester 2

Ini foto pertama kita di semeter 2. Kita foto-foto seperti ini, waktu lagi stress mikirin programming. Kita memilih membuka Photo Booth, daripada XCode.

Meskipun di sini terlihat jelek (bukan wajah sebenarnya), namun setidaknya kita bahagia melihat wajah yang seperti itu. Ngilangin stress banget deh. Di sini ada Febri, aku, Riza, sama Fadly.

Febri curang nggak kena
Ini Riza curang yang nggak kena



Selamat Datang Semester 2 :)

Udah seminggu menjalani semester 2. Banyak hal-hal baru yang aku dapet di sini. Terutama masalah materi kuliah. Kalau masalah sama temen sekelas, jujur aja sih, ya nggak ngerti kenapa, di semester 2 ini aku merasa semakin jauh dengan teman-temanku yang dulu begitu dekat. Entahlah. Tapi mereka yang dulu begitu dekat, tanpa ada rasa canggung, sekarang malah berbalik seperti jaauuuuhhh sekali. Kalaupun mereka memang menjauh dari aku, ya bukan mereka yang salah. Tapi aku yang salah. Seharusnya aku lebih memahami "cara bermain" mereka.

Well, kali ini kita fokus ajah bahas masalah kuliah. Di semester 2 ini, banyak dosen yang baru. Istilah baru di sini, maksudnya baru mengajar. Ada juga beberapa dosen yang mengajar kita lagi. Ohya, ini aku ada jadwal kita di semester 2.
Di sana ada beberapa mata kuliah yang bisa diterima dengan otak standart seperti saya, ada juga yang musti benar-benar-benar-benar mempelajarinya dengan benar-benar. Aku sih paling suka sama Story-telling. Tapi cuman 2 sks. Yang lainnya yang susah-susah? Bussyyyyetttt... Tapi ya, enjoy aja lah. Multimedia Broadcasting itu seneng-seneng, bukan galau (ini versinya dia).

Kalau tentang dosennya. Aku tetep bersyukur sih. Setelah berkenalan dengan dosen yang baru, ada salah satu dosen yang cara berfikirnya bagus banget. Aku suka. Beliau ini kurang lebih jalan fikirannya sama kayak aku (tapi masih bagusan dosenku sih. Aku mah belum ada apa-apanya). Beliau ini peduli dengan hal yang sederhana, seperti listrik yang menyala sia-sia, lab yang kotor, dan yang paling penting, beliau ini melarang keras seseorang untuk saling membenci. Bagiku, sangat jarang ada orang yang peduli dengan lingkungan. Beliau lebih menyuruh kita untuk intropeksi diri. Hmm, Maaf. Tapi kalau aku boleh melihat, dosenku yang satu ini seperti memiliki trauma tersendiri di dirinya. Maaf lagi. Bukannya aku sok-sokan jadi peramal. Tapi kalau aku liat cara beliau bercerita dan menasehati kami, ada ekspresi seperti pernah merasakan suatu trauma atau kesedihan yang membawanya bisa berbuat baik seperti ini. Seperti pernah menjadi korban bullying, kalo aku liat. Maaf. Sekali lagi ini hanya presepsiku.

Lanjut ke dosen baru selanjutnya. Ada dosen fotografi yang kebaikannya sudah sangat terlihat di hari pertama. Beliau benar-benar mengajari dari "NOL", dan selalu menghargai setiap karya yang ada. Jujur ajah, aku nggak suka banget sama fotografi. Tapi karena beliau cara mengajarnya bikin aku jatuh cinta, yaaa akhirnya aku suka deh. Ohya, waktu hari pertama, ada tugas motret apapun yang ada disekitar lantai 3. Dan karena (sumpah) aku nggak ngerti apapun tentang fotografi (sewaktu SMK cuman 1 kali teori 1 kali praktek). Mlempem banget. Jadi waktu ada tugas itu aku hanya berbekal yang namanya "perasaan" dan "selera". Jadi kalo menurut seleraku bagus, ya yang itu yang aku ambil. Waktu itu aku motret sepatuku sendiri. Tapi ternyata kata dosenku bagus. Fokusnya pas, angel-nya pas, komposisinya pas. Hahahaha. Sepertinya hari itu memang "kebetulan" beruntung, atau dosennya pengen menghibur aku? Entahlah. Tapi kata dosenku bagus kok. Ada juga temen yang nyeplos "Ya iya lah, Ravita anak broadcast." Padahal nggak ada hubungannya sama sekali. Ahh, itu hanyalah omongan orang putus asa. Daaannn, di sini aku dapat mengambil kesimpulan, "Dalam fotografi, tidak hanya dibutuhkan pengetahuan. Namun juga selera yang tinggi." Aku tidak bilang seleraku tinggi lho yaa. Namun ada banyak makna terselubung dalam kesimpulan barusan. Ngakakakakaa. :p (Ya Allah, maafkan hamba)

Seperti sifat teman-teman sekelasku, sifat dosen kami pun berbeda-beda. Dan sebagai mahasiswa yang baik, kita harus mampu menyesuaikan diri dalam berbagai keadaan.

Harapanku di semester ini, semoga lebih baik lagi. Lebih bersahabat dengan semuanya. Semoga juga, di semester 2 ini, si dia semakin...... (jangan lanjutin)
Oh iya, aku juga pengen bilang kalau aku sayang sama semua teman-teman sekelasku, tanpa terkecuali. Yaaaaa, walaupun mungkin ada satu yang spesial, tapi aku tetep sayaaaaannng sama semuanya. :)

Okeee, aku tutup sampai di sini. :)

Jumat, 08 Maret 2013

Jangan...

Jangan menjauh. Karena aku tak ada rencana untuk mendekatimu.
Jangan bersembunyi. Karena mencarimu tidak pernah ada dalam agendaku.
Jangan berlari. Karena sedikitpun tak ada niatku untuk mengejarmu.
Jangan berpaling. Karena memandangmu saja aku tidak pernah.
Jangan membenciku. Karena perkiraan bahwa aku mencintaimu, hanya ada di dalam pikiranmu.
Jangan percaya mereka. Karena mereka yang mengatakan bahwa aku mencintaimu, hanyalah perkumpulan orang-orang yang tidak kesampaian menjadi wartawan gosip.
Jangan menyimpulkan dari tulisan-tulisanku. Karena aku hanya menulis, dan tidak semua tentangmu.
Jangan bingung. Karena apabila aku mencintaimu pun, tak berarti aku berniat untuk menginginkanmu.
Jangan terlalu berlebihan menilaiku. Karena itu akan mengubahmu menjadi orang yang terlalu percaya diri (baca: GR OVERLOAD).

Tak Seorang Pun Berhak Mem-BULLY

Tiba-tiba aku mengingat...
Cerita tentang remaja SMK yang berada dilingkungan baru. Sebuah lingkungan yang diharapkan mampu membawa hidupnya lebih baik lagi. Sebuah lingkungan yang diharapkan bisa menerimanya, seperti dia yang menerima apapun yang ada di sini.
Namun kebencian tidak selalu beralasan. Rasa benci tidak hadir dari seseorang yang dibenci. Namun hadir dalam diri seseorang yang memiliki kebencian, dan semakin memeliharanya. Ya. Rasa benci yang ada di dalam diri itu sebenarnya tidak ada. Hanya saja diri itu yang memeliharanya, dan menjadikannya ada.
Sama seperti remaja SMK itu. Tidak benar-benar tau mengapa dibenci, diabaikan, dan tidak dianggap. Yang dirasa hanyalah; semuanya jauh dan semakin menjauh. Lingkungan baru yang diharapkan bisa mendukungnya, ternyata malah berusaha menendangnya. Kenapa? Kenapa remaja itu begitu tidak disukai? Apakah karena dia bodoh? Lantas bagaimana bisa mengambil kesimpulan bahwa dia bodoh? Sedangkan kesempatan saja tidak pernah kalian beri untuknya. Terbukti ketika ada lomba dikelas dan remaja itu ingin mengikutinya, namun kalian malah tidak mengizinkan dia ikut. Dan ketika pembagian kelompok untuk tugas, adakah yang mengajaknya? Entahlah. Padahal itu baru-baru awal masuk sekolah, awal berkenalan, dan kalian kompak membecinya? Miris sekali.

Remaja yang berusaha untuk tangguh itu mulai bangkit. Tidak mungkin bersedih terlalu lama. Tidak mungkin juga memaksa seseorang untuk menyukai dirinya. Dia mulai berusaha untuk membuat orang lain percaya akan dirinya. Yang dia lakukan sederhana, seperti mengikuti komunitas di luar sekolah yang bisa menerima. Komunitas yang dia ikuti adalah komunitas menulis. Dan di sana ada banyak lomba-lomba yang mendukungnya. Karena latihan yang begitu keras, akhirnya remaja itu berhasil memenangkan beberapa lomba, dan mendapat kesempatan menulis buku.

Kini pemandangan berbeda ada di kelasnya. Teman-teman yang dulu begitu tidak menganggapnya, kini mulai banyak yang mendekati. Bahkan tidak jarang diantara mereka minta bantuan kepada seorang yang pernah dibully tersebut. Dan remaja yang menjadi korban bullying itu benar-benar tulus memaafkan meskipun tak pernah terdengar satu kata maaf pun. Kini dia memiliki teman semakin banyak. Dan sering berebut untuk berteman dengannya.

Tak terasa, hari kelulusan tiba. Ternyata korban bullying itu mendapat peringkat pertama dan mendapat penghargaan saat wisuda. Selain itu, dia juga berhasil menerima beasiswa di perguruan negeri. Dia diterima sendirian, tidak bersama teman-temannya. Teman-teman yang dulu sering membully, tidak dapat diterima di universitas pilihannya. Mungkin mereka tidak percaya. Teman yang dulu begitu dianggap bodoh, kini melenggang dan menari-menari menuju kampus impiannya dengan membawa piala.

Kini, remaja itu masih berusaha menjadi lebih baik lagi. Berjanji untuk tidak akan balas dendam dengan siapapun, dan berjanji untuk tidak akan sombong. Karena bagaimanpun juga, semuanya adalah pemberian Tuhan. Kini... remaja itu sedang berusaha untuk bermetamorfosis menjadi seorang wanita. Wanita yang dewasa, penuh kasih, dan tangguh. Mendapat perlakuan baik itu tidak harus. Namun memberi perlakuan baik itu harus. Harus bagi jiwa yang berfikir.


Pesan dari cerita nyata tersebut adalah...
Kita tidak boleh menganggap rendah orang lain. Bullying tidak hanya kekerasan fisik. Namun juga kekerasan batin. Luka ditubuh kita, bisa saja terobati. Namun dokter mana yang mampu mengobati luka batin dengan lekas tanpa sisa? Siapapun, tidak berhak melakukan bullying kepada orang lain dalam bentuk apapun. Meskipun korban bullying tidak pernah berdoa untuk keburukan sang pelaku bullying, tetap saja Tuhan mendengar jeritan hati yang tak tersampaikan. Tuhan Sang Maha Pencipta, tak akan membiarkan hambanya tertindas. Pelaku bullying juga tidak akan pernah menjadi orang sukses. Pelaku bullying hanya dapat melihat korbannya berada dipuncak kesuksesan. Pelaku bullying tidak akan pernah ada yang sukses. Tidak pernah. Karena dia hanya bekerja untuk menjatuhkan orang lain, tanpa berusaha memajukan dirinya sendiri.

Dan...
Teruntuk korban bullying. Jangan pernah takut. Tuhan tak mungkin membiarkanmu berada dikeadaan tertindas selamanya. Tetaplah berbuat baik. Semakin dibully, semakin tangguhlah untuk membuktikan bahwa kamu tidak pantas mendapat perlakuan itu. Pergilah ke tempat suksesmu, lalu gapai bintangmu. Tak peduli berapa banyak orang menjatuhkanmu. Tuhan akan membuatmu bahagia dengan cara-Nya sendiri.

Someday I'll be living in a big ol' city
And all you're ever going to be is mean
Someday I'll be big enough so you can't hit me
And all you're ever going to be is mean
Why you gotta be so mean?

Taylor Swift - Mean

Kamis, 07 Maret 2013

Lensa dan Fokus

Seperti lensa yang mengumpulkan cahaya
Seperti fokus yang mengatur ketajamannya
Lensa tanpa fokus takkan hidup
Fokus tanpa lensa akan mati
Saling melengkapi, menghidupkan
Seperti cinta dan hati
Cinta tanpa hati takkan hidup
Hati tanpa cinta akan mati
Tentang fotografi...
Bagaimana bisa hanya dengan pengetahuan?
Bagaimana bisa bila tanpa hati?
Fokus adalah bagaimana kita memilih
Bagian mana yang akan dijadikan utama
Dengan mengkaburkan suatu bagian
Untuk memperjelas bagian lainnya
Demi menjadikan suatu keindahan
Yang berirama, penuh makna
Fotografi serupa cinta dan kehidupan
Di sini bukan hanya keindahan
Namun tentang pilihan hidup dan mati...


(Ini puisi saya dedikasikan untuk dosen fotografi saya, yang memberi semangat tersendiri untuk saya di hari pertama kuliahnya. Saya diminta menulis puisi untuk beliau, dengan bercanda. Dan saya mengabulkan permintaan itu, dengan serius. Mohon maaf atas kekeliruan apapun yang ada di sini.)