Sabtu, 17 Agustus 2013

Uh!

Maaf, sudah sebulan lebih tidak di sini.
Ah, tapi untuk apa meminta maaf? Aku rasa tidak ada yang dirugikan apabila aku tidak nge-blog. Mungkin.., justru banyak yang merasa beruntung apabila aku tidak nge-blog. Yaaa..., setidaknya aku tidak menceritakan siapapun di sini.

Tapi keluar dari itu semua...
Entah perasaan apakah ini. Aku hanya merasa bersalah apabila sehari saja tidak menulis. Terlebih lagi banyak yang seharusnya ditulis, tapi tidak aku lakukan. Ya. Tidak semuanya harus diceritakan memang. Tapi... ah sudahlah. Yang jelas aku selalu merindukan tempat di sini. Sebuah tempat yang belum aku beri nama.

Di artikel pertamaku setelah sekian lama aku menggantung penaku, aku ingin bercerita. Sebuah rangkuman dari cerita panjang yang seharusnya tidak aku rangkum. Tapi aku terlanjur merelakan diri untuk terbunuh oleh keadaan, dan akhirnya aku harus merangkumnya.

Selama aku tidak berada di sini, aku bertemu dengan kejadian-kegiatan-pengalaman-pelajaran ajaib yang bisa disebut "Kerusuhan yang Mendidik". Ya. aku merasa terdidik. Jauh lebih terdidik daripada waktu aku menghabiskan bertahun-tahunku di meja belajar. Sebuah keadaan di mana aku dipaksa memilih banyak prioritas, untuk dijadikan prioritas.

Aku ingin mulai bercerita sejak aku bergabung dengan komunitas film yang ada di kampus yang aku ikuti hampir setahun. Sampai akhirnya aku dipilih untuk menjadi ketua dalam komunitas tersebut. Bangga? Tidak sama sekali. Selama aku belum memuaskan sebanyak-banyaknya orang.

Beberapa hari setelah masa penjabatanku (agak tinggi kedengarannya), kami diajak untuk bergabung dalam sebuah komunitas sosial yang menjunjung tinggi rasa Nasionalisme. Karena kami dari komunitas film dan mereka dari komunitas Nasionalisme (aku bingung menyebutnya dengan nama apa), akhirnya mereka yang lebih dulu mengenal kami, mengajak untuk membuat film tentang Nasionalisme.

Di antara tetek-mbengek pembuatan film tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa, "Sesederhana apapun sebuah film, tak akan pernah bisa disebut sederhana". Ya. Proposal kami terbang sampai ke walikota. Kami melibatkan banyak orang penting. Sangat menantang, tapi lebih banyak mengerikannya.

Dalam waktu yang bersamaan..., aku dan teman-teman dari komunitas film juga terlibat dalam kepanitian ospek tahun ini. Kami diharuskan mengikuti semua rapat-rapat itu. Dan untuk masalah prioritas, tentu tidak ada yang mau dinomorduakan. Semua mendesak.

Dan mereka mulai menatapku. Tajam. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Namun suara hatinya sampai di gendang telingaku. Maaf. Maaf. Maaf. Aku memang yang salah. Seharusnya aku tidak menerima tawaran kerja sama ini. Walaupun kami menyetujuinya bersama-sama, tapi tetap aku yang salah. Aku tahu kata maafku tidak akan pernah cukup untuk mengganti begadangnya kalian hingga subuh.

Terlebih, kita melakukan ini di saat-saat bulan Ramadhan. Mereka merajuk kepadaku sambil berkata, Harusnya di bulan baik seperti ini, kita tidak sesibuk ini". Uuuuhhh. Maaf. Bahkan aku tidak pernah berfikir untuk menghalangi ibadah siapapun. Aku berfikir bahwa kalian senang. Aku tidak pernah berfikir apabila kalian lelah, kalian aku menyalahkanku. Tapi... ah. tetap ini salahku.

Aku bukan pemimpin yang baik. Tapi tidak ada seorang pemimpin yang rela membiarkan orang lain merugi. Bila sanggup aku peluk, aku lindungi. Dan bila tanganku sampai menjangkau, akan aku rengkuh setiap detailnya. Aku mengerti bahwa aku tidak pernah benar. Namun bila aku disalahkan, tentu aku merasa kecewa.

Deadline, protes, angin malam, teriakkan, jauh lebih kejam daripada sebilah pedang yang dihujam ke jantung. Aku jatuh sakit, namun tetap harus terlihat sehat. Biarlah aku sakit. Anggap saja ini karma untukku, sebab aku telah menyita banyak waktu tidur teman-temanku. Ini salahku. Membiarkan teman-temanku membantuku menyelesaikan ini. Dan yang lebih parahnya lagi. Kabar ini sampai ke telinga-telinga warga kampus. Entahlah.

Maafku yang pertama untuk Tuhan. Salahku begitu menumpuk, dan aku tumpuk lagi. Lalu maaf untuk teman-teman yang sudah aku bikin lelah. Lalu maaf untuk proyek film yang belum selesai. Lalu maaf untuk rapat dan latihan ospek yang aku tinggalkan. Lalu maaf untuk komunitas sosialku yang lain. Lalu maaf untuk adik-adik kecilku. Mungkin kalian menyesal memiliki pengajar sepertiku. Lalu maaf untuk keluargaku yang jarang bertemu denganku walaupun setiap hari aku pulang ke rumah. Mungkin keluargaku sebal melihatku yang hanya pulang untuk mampir makan, mandi, dan tidur. Lalu maaf untuk janji-janji bersama teman-teman yang aku ingkari. Lalu maaf untuk deadline yang aku acuhkan. Lalu maaf untuk sahabat-sahabat yang merelakan diri untuk melihatku menangis di depannya. Lalu maaf untuk... semuanya. Ya. Semuanya.

Semoga dengan ini, aku bisa menjadi lebih baik. Dalam bertanggung jawab, mengambil keputusan, dan melindungi setiap nafas di punggungku. Aku pasti bisa melewati semua ini. Sebab Tuhan memberikan ini, tentu dengan alasan.

Terima kasih. Dan sekali lagi maaf. Untuk celotehanku yang tidak pernah jelas. Semoga kalian tidak menyesal. :*

Kamis, 27 Juni 2013

(JANGAN!!!) Terbelenggu dalam Penantian

Ini bukan sekedar deretan kata sedih dari penulis abal-abal yang sekaligus seperti penyebar virus galau. Namun mengertilah, bahwa selalu ada pesan yang ingin aku sampaikan bahkan dari satu huruf saja.

Aku tidak suka menunggu. Namun bagaimana lagi? Aku bukan penyusun awal yang baik untuk bakal cerita kita nanti.
Aku lebih tidak suka ditunggu. Namun bagaimana lagi? Aku juga bukan pengakhir cerita yang bijak.

Lalu bagaimana rasanya menanti dan menikmati punggung tanpa mendapat sandaran? Masih bisa bilang bahagia?
Aku cukup paham dengan keberadaan mata yang ada di muka, bukan di punggung. Namun memang segalanya harus memerlukan latihan, termasuk menatap mata seseorang.
Aku berharap bahwa ini hanyalah kekaguman terhadap seseorang secara berlebihan dan nyaris tak berbatas. Bukan perasaan jatuh cinta yang tidak pernah jelas.

Tidak bisa melakukan apapun untuk seseorang yang berhasil menyergapku dengan pesonanya, memang terdengar menyedihkan. Bahkan sebuah sapaan datar pun belum pernah dilakukan. Apalagi pengakuan sewajarnya mengenai hal-hal sepele semacam "Warna bajumu hari ini membantumu untuk terlihat lebih segar". Kenyataannya, aku masih menyusun rangkaian kalimat itu dalam hati. Kali ini kau harus percaya bahwa kalimatku tulus. Tidak ada yang dibuat-buat.

Diam di tempatku sambil memutar-mutar penaku untuk membentuk namamu. Hanya sebatas itu yang mampu aku lakukan untuk menyapamu. Sementara ini, biar udara yang aku beri amanah untuk menyampaikannya kepadamu.
Memiliki pesona sepertimu agar kekagumanmu atas diriku setara dengan kekagumanku terhadapmu, nyaris terdengar mustahil, namun masih bisa dilakukan. Selama aku masih bersua dengan kertas-kertasku, biarkan aku berusaha membuatnya nyata.

Bersabar, atau nikmati saja. Rasa-rasa itu juga pasti mengerti kapan dia akan pergi. Waktu akan membantu dengan pasti, walau tidak sekarang.
Bersabar, atau menanti saja. Semesta akan berlaku adil pada setiap jiwa yang tulus dan mengerti. Waktu akan menghadirkan sosok yang dinanti, walau tidak sekarang.

Dan untuk waktu-waktu yang telah aku luangkan untuk memikirkanmu selama ini, akan aku tagih suatu hari... :)

Rabu, 12 Juni 2013

Selamat Ulang Tahun, Dua Lelaki Hebatku

Surabaya, 09 Juni 2013

Selamat ulang tahun, untuk dua lelaki terhebatku.
Semoga panjang umur, sehat, selalu membanggakan, dan menjadi dua orang lelaki yang selalu menjadi kesayanganku.
Tepat dihari itu, mereka berganti usia. Ayahku berulang tahun yang ke 52 tahun, sedangkan Masku berusia 21 tahun.

Satu yang harus dunia tahu, bahwa aku sangat menyayangi mereka. Mereka ibarat sendi ditubuhku, yang mengokohkan aku, menggerakkanku, juga selalu memberiku ruang untuk bergerak bebas tanpa lupa selalu menjagaku. Mereka lebih dari segalanya, dua sosok yang membuatku mengerti bahwa hidup harus berjuang. Mereka adalah alasan mengapa aku di sini, berusaha memampukan diri untuk menunjukkan kepada dunia bahwa aku ada. Iya, mereka. Memiliki ruang tersendiri di salah satu bagian nyawaku.

Selamat ulang tahun, hadiah spesial dari Tuhan... :* :)

Jumat, 07 Juni 2013

Imajinasi

Alam selalu memiliki cara
Bagaimana memeluk hati yang sendiri
Membuat katup mata terbuka
Terbelalak sakit, namun membuatku mengerti

Keberadaanmu hanyalah kiasan
Penciptaan dari imajinasku sendiri
Kita tak pernah benar bersama
Inilah ilusi teruntuk hati yang tak terisi

Kesalahanku adalah menganggapmu ada
Menghalalkan segala bentuk mimpi
Sekarang aku tak menghindar
Hanya tak ingin ceroboh lagi

Kamis, 06 Juni 2013

Tertunda

Kita menunda pertemuan itu lagi
Adakah titik sesal di salah satu sudutmu?
Atau hanya aku yang menanti pertemuan ini?
Bukan hanya kecewa
Namun aku juga harus menahan rinduku lebih lama lagi

Cerita antara aku dan kamu
Memang telah lewat sejak lama
Kalaupun hatiku sudah terisi cerita lain
Namun tidakkah waktu menyisihkan pertemuan ini
Setidaknya memastikan bahwa kita tetap baik-baik saja

Tidakkah kau rindukan rona merah di kedua pipiku?
Aku merindukan tangan gugupmu yang tersembunyi di dalam saku
Tidakkah kau rindukan hiruk-pikuk di tengah keramaian kota ini?
Aku merindukan saat aku kalah beradu makan dan harus mentraktirmu

"Waktu Tuhan lebih indah...," katamu.