Kamis, 01 Januari 2015

Puisi di Januari

Ada yang tidak ingin ditinggalkan
Ada juga yang membuat hati ingin segera digantikan
Mungkin waktu yang pasrah dilupakan
Atau terlalu percaya diri sedang diperjuangkan

Apakah bunyi terompet dan petasan adalah tanda sedang bahagia?
Bagiku tidak selalu
Terompet berfungsi untuk menyamarkan tangis yang menjadi-jadi
Sedangkan petasan, bisa sebagai bentuk penyamaran suara-suara bising di kepala

Bila tahun sebelumnya aku belum bisa menjadi lagu pengantar tidurmu
Biarkan aku di tahun ini setidaknya menjadi detik-detik di jam dinding kamarmu
Bila tahun sebelumnya aku tidak seberani warna sepatumu
Biarkan aku di tahun ini setidaknya menjadi tali yang mengisi lubang-lubang di sepatumu

Tenang saja, ada yang lebih cerewet daripada puisi-puisiku
Yaitu pikiran-pikiranku tentangmu
Namun untuk tahun ini, aku berharap puisiku lebih cerewet
Yang tentu saja tidak untuk pikiran-pikiranku tentangmu



Selamat tahun baru
Semoga lebih banyak lagi puisi yang dihargai

Sabtu, 27 Desember 2014

Dialog : Terinspirasi...

Perempuan : Apakah salah bila terinspirasi? Atau menjadikan seseorang menjadi objek karya kita?
Laki-laki : Boleh saja. Tapi kadang-kadang, tidak adil untuk beberapa pihak
Perempuan : Tidak adil sebelah mana?
Laki-laki : Kamu mengumbar cerita orang lain.
Perempuan : Aku tidak menyebutkan nama
Laki-laki : Bisa jadi ada yang tersinggung, atau tidak terima
Perempuan : Aku berusaha membuat suatu hal yang meskipun tidak berguna, ia tidak sia-sia
Laki-laki : Iya, aku tahu
Perempuan : Secara tidak langsung, aku berusaha menjadi benar meski belum sempurna. Apa aku salah? Kalau aku salah, berarti Taylor Swift juga salah.
Laki-laki : Tidak salah. Tapi Taylor Swift dan kamu harus sangat kuat untuk banyak hal
Perempuan : Semoga
Laki-laki : Apa kamu juga mau nulis aku di blogmu?
Perempuan : Aku harap kamu terima

Menjaga Satu

Berawal dari aku yang terlalu ingin memenuhi keinginanku
Membuat sesuatu yang hanya terdiri dari aku dan kamu
Sederhana, dan tak akan mati
Untuk satu hal, aku tidak ingin siapapun menggantikanmu

...

Kamu banyak berubah
Bahkan dari caramu menyapa
Mungkin menurutmu aku juga berubah
Bahkan dari caraku membalas sapaanmu

Banyak hal yang aku pikirkan sebelum membalas pesanmu
Aku tidak ingin terlihat terburu-buru
Atau terlalu mengulur waktu
Semua kuatur sedemikian rupa agar tak terlihat berpura-pura

Dari setiap perkataanmu yang membuatku bahagia
Selalu aku usahakan agar degup jantungku tetap sopan
Aku khawatir napasku terbaca dari pesan yang aku tulis
Kamu hebat melebihi perkiraanku, aku tahu

...

Sampai dia jadi, aku berjanji akan menjaganya
Namun satu hal, berjanjilah untuk terus menjaga yang sudah aku beri
"Kita akan bahagia bila bersungguh-sungguh,"
katamu




Sabtu, 29 November 2014

Sebab Aku Menulis

Aku menulis sebab...

Saat aku menggambar ice cream, dosenku mengira itu obor.
Saat aku menghibur anak tetanggaku dengan menggambar strawberry, dia menyebutnya nanas.

Ketika seseorang memintaku menggambarmu, aku takut tidak seperti kamu.
Jadi saat itu aku putuskan menggambar bentuk hati untuk menjelaskan bahwa kamu adalah hati. Atau kalau gambar hatiku masih belum juga bagus, beri aku kesempatan terakhir untuk menulis "I Love You".

Hanya itu yang bisa aku lakukan.
Maksudku, jangan melarangku menulis tentangmu saat aku masih masih dan masih mencintaimu.


Dingin

Pacet, 15 November 2014

Jumat, 07 November 2014

Bahu yang Lama Tidak Dijamah

Bila memelukmu masih terlalu jauh. Bisakah kamu hanya menyapaku malam ini? Malam ini saja. Hanya menyapa. Aku berjanji tidak akan meminta lebih.

Di hari sebelum hari ini, kamu yang lebih dulu meminta untuk bertemu. Namun tetap saja, aku selalu menjadi yang paling terakhir menahanmu pergi. Iya. Sejak sering berpisah denganmu, aku menjelma menjadi perempuan yang tak pernah kenyang dengan pertemuan. Rasanya, seperti rindu dan takut kehilangan dijadikan satu.

Dua orang yang saling melarang namun sama-sama tidak bisa memuaskan. Dua orang yang takut ditinggal dan meninggalkan namun sama-sama tidak bisa bertahan. Dua orang yang sama-sama berpikir, "Haruskah aku tinggalkan, namun bagaimana bila dia mencariku, menungguku?" Dua orang yang berusaha sebisa mungkin mencegah perpisahan tanpa harus ada yang terluka, namun tidak sadar bahwa keduanya sedang terluka.

Semacam dua pasang bahu yang sudah lama tidak dijamah. Atau dua pasang lengan yang terlalu pendek untuk memeluk diri sendiri. Aku terlalu dalam mencintaimu sampai-sampai tidak bijaksana terhadap diri sendiri. Bila tidak ada kamu di sini, aku pelit untuk tersenyum kepada yang selain kamu.

Tawamu terlalu berharga untuk dikandaskan,
hai-mu selalu memintaku untuk menunggu.

Aku mau.