Sabtu, 27 Juni 2015

Barangkali

Barangkali seorang teman yang menurutmu cari perhatian adalah seorang anak yang keluarganya tidak lengkap sejak kecil.
Barangkali seorang teman yang suka membicarakan hal tidak penting adalah anak yang ayah ibunya sudah tua, dari pagi sampai malam berjualan, dan tidak berhasil menjaga komunikasi yang baik dengan anaknya.
Barangkali seorang teman yang bajunya itu-itu saja, memiliki adik yang banyak dan sangat bahagia bila membeli baju untuk adik-adiknya.
Barangkali seorang teman yang berbicara kasar, memiliki keluarga yang selalu bertengkar dan berteriak. Tidak seperti dirimu yang bisa mengajak ayah ibu makan di restoran dengan mudah.
Barangkali seorang teman yang sering kamu bicarakan di belakang, selalu baik kepadamu, menemanimu makan, dan membantumu menyelesaikan tugas tanpa mengungkit-ungkit. Dia selalu memaafkanmu.
Barangkali seorang teman yang tidak pernah mengajakmu bicara adalah seorang teman yang pernah begitu ramah kepadamu namun kamu abaikan.
Barangkali seorang teman yang namanya masuk dalam daftar sindirian di akun sosial mediamu adalah seorang teman yang mati-matian menjaga nama baikmu di depan orang lain.
Barangkali seorang teman yang hari ini kamu sindir, semalaman menangis dan tidak bisa melupakan sindiranmu hingga besok, besok, dan besoknya lagi.

Barangkali... barangkali... barangkali...

Barangkali hatimu bergetar saat membaca ini, barangkali sudah saatnya kamu berubah. Maaf. Aku menulis sebab kamu lebih suka membaca daripada mendengar.

Mengapa menyindir, bila saling menyayangi lebih mudah, tidak berdosa, dan disukai Tuhan?

Aku mencintaimu, meski tidak sampai bulan.

Minggu, 07 Juni 2015

Saya: Bila Seorang Teman Merasa Tidak Punya Teman

Hari ini saya menangis. Sungguh, saya tahu bahwa itu bukan awal kalimat yang baik untuk mempertahankan pembaca agar membaca tulisan ini sampai habis. Tapi kenyataannya memang saya menangis dan saya berharap kalian berhenti membaca setelah menemukan tulisan "terima kasih".

Saya menangis sebab seorang teman yang saya temani karena saat itu merasa tidak punya teman, kini kembali ke temannya. Saya tidak bisa membedakan antara terharu, bangga, bahagia, atau kecewa.

--------------------------------------------------------------------------------

Kita tidak hidup pada zaman penjajahan di mana setidaknya memiliki mental yang kuat untuk membunuh penjajah. Kita hidup pada zaman di mana untuk membahagiakan seseorang bisa dilakukan dengan hanya memberi satu senyuman.

Kepada teman-teman yang merasa ceritanya saya tulis di sini, saya katakan bahwa itu benar. Saya bukan orang baik, itu sebabnya saya ada di bumi. I love you!

Saya memanggilnya "Ayis", berharap dia punya kenangan yang semoga lucu di masa kuliahnya.
Saya memanggilnya "Oppa", sebab saya tahu dia senang apabila seorang teman manja kepadanya.
Saya menjemput dan mengantar teman laki-laki yang baru saja menjual motornya agar dia berpikir bahwa dia masih punya teman perempuan yang bisa diandalkan.
Saya menelepon seorang teman yang sakit. Membuatnya tertawa sebab selera humor saya yang bagus tidak dijual di apotek dan rumah sakit.
Saya berkata ke salah satu dosen agar saya saja yang dikatai "gendut" di kelas. Jangan teman yang lain. Sebab saya lebih bisa bertahan dengan hal itu.
Saya bercerita hal paling menyedihkan di hidup saya kepada seorang teman yang iri dengan kehidupan saya. Berharap agar dia sadar bahwa Tuhan selalu adil, kemudian dia bersyukur menjadi dirinya sendiri.
Saya tidak berbasa-basi "Apakah kamu lolos SNMPTN?" kepada teman yang saya tahu tidak lolos. Sebab saya tahu tidak semua orang bisa dengan mudah menceritakan kegagalan. Saya juga tahu bahwa apabila dia lolos, dia pasti cerita dengan sendirinya.
Saya menemani seorang teman yang tidak memiliki tim PKM sebab 2 orang sahabatnya membuat tim sendiri. Saya berbohong dengan mengatakan belum dapat tim sebab tidak ingin membuatnya merasa sendiri.
Saya menyuruh seorang teman mengangkat tangan dan mengutarakan pendapat di kelas. Sebab saya tahu, setiap orang ingin didengar tetapi tidak semuanya memiliki keberanian yang cukup.
Saya tidak bercerita tentang kebaikan dan kehebatan ayah saya kepada teman yang sudah ditinggal pergi ayahnya. Sebab saya tidak ingin membuat mereka iri kemudian marah kepada Tuhan.
Saya rutin mengajak berbicara teman yang paling tidak disukai di kelas sebab saya tahu, teman adalah rumah kedua setelah keluarga bagi sebagian orang. Saya ingin memberitahunya bahwa saya adalah teman yang bisa dijadikan rumah kedua.

Saya tidak menganut kepercayaan "lupakan kebaikan yang telah kamu lakukan" atau "kalau sudah memberi, tangan kiri jangan sampai tahu". Menurut saya, tangan kiri dan semua orang harus tahu bahwa ada banyak cara menolong orang lain. Saya membenci orang yang terlalu lama membaca buku tanpa membaca lingkungan sekitar. Saya bangga menjadi diri sendiri. Sebab buku bisa dibeli, sedangkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar hanya bisa dibiasakan oleh kemauan diri.

Ketika semua telah kembali; seorang teman mendapat motor baru, 2 sahabatnya kembali, dia sembuh, dia berani menyampaikan pendapat, dan beberapa teman bertemu kekasihnya, saya hanyalah seorang teman yang tugasnya sudah selesai.

Hal yang harus diingat adalah, tugas saya menemani teman-teman yang merasa sendiri. Jadi apabila mereka kembali, giliran saya yang tidak boleh merasa sendiri. Heeeyyy..., merasa sendiri tidak berarti benar-benar sendiri, lhooo... :)

Terima kasih.

Senin, 01 Juni 2015

Suatu Juni

Sebelum ada puisi-puisi dan lagu tentang bulan Juni, aku adalah salah satu perempuan yang berhitung
Perihal kepasrahan sampai ingatan yang tak tahu malu
Sebelum ada tanggal sakral bagi dua orang yang bahagia, aku adalah perempuan yang mempersiapkan hadiah
Membuat mereka bahagia mendengarkan doa dan nyanyianku

Aku rindu memberi ucapan tanpa kepayahan menembus dinding
Aku lupa cara bersalaman tanpa peduli dibunuh tatapan
Menjadi orang paling bahagia di bulan Juni, ingin kujaga sampai habis
Namun aku bukan orang yang bisa pura-pura tidak tahu

Terkadang aku membenci ingatanku yang mendadak berfungsi pada suatu yang tidak perlu diingat
Bulan Juni seharusnya tidak membuatku terlihat semakin bodoh
Menandai sebuah hari dan siap menyalahkan diri
Melupakan hari lain dengan menyangkal setiap air mata

Aku ingin tidak lagi berusaha memberikan senyum terbaik, atau menahan senyum terbahak-bahak
Bukankah senyum adalah ekspresi normal yang tidak untuk dibuat atau ditahan?
Begitupun bulan Juni yang kuharap dapat berjalan semestinya
Seperti saat puisi dan lagu belum diciptakan

Surabaya, 01 Juni 2015
Di atas bantal oranye pemberian seseorang.

Jumat, 22 Mei 2015

Hula-hula

Puisi ini tidak disponsori oleh perusahaan es krim
Kamu harus tahu bahwa ini lebih mahal dari total seluruh perusahaan es krim di dunia
Bahkan kepadamu, aku tidak membaginya cuma-cuma
Kamu harus membayar kenangan-kenangan yang bisa membuat setiap pagimu berisi pikiran-pikiran

Aku hafal aroma parfummu meski tidak pernah kamu dekap
Aku memiliki intuisi yang begitu hebat meski tanpa kamu bagi radar
Kesempatan yang beberapa kali aku sangkal
Atau keraguan yang berkembang biak dengan cepat

"Hula-hula adalah hura-hura yang manja
Hura-hura adalah kebahagiaan yang pura-pura"


Bagiku, kamu lebih dari panggilan sayang
Aku hanya tidak menyangka bahwa kamu memilih perempuan yang di akun pribadinya berisi banyak foto laki-laki pujaannya
Pun aku tak menyangka bahwa yang kamu pilih, masih mencari laki-laki lain dengan cara mengajak berkenalan di kereta saat liburan ke Jogja, saat sudah memilikimu
Kalau yang kamu pilih seperti itu, aku bangga sebab aku bukan perempuan itu
Selain memujimu lewat puisi, aku tak seberani perempuanmu dalam menjual harga diri

"Sayang...,
aku bukan perempuan yang akan mengancammu untuk terjun dari lantai 3."

"Terkadang, aku tidak membeli sepatu karena suka, atau butuh.
Melainkan karena mumpung ada dan murah. Iya, meski cepat rusak."

Aku menulis ini agar kamu tidak menyesal
Dengan begini, saat kamu mencariku, kamu dapat membaca tentang dirimu
Hey...., sudah lama ini bukan tentangmu
Terima kasih sebab masih rutin berkunjung



Maaf,
terkadang jujur memang menyakitkan.
Semoga kamu tidak sesakit saat aku menulis ini.

-Ravita-

Jumat, 24 April 2015

Kepada Seseorang yang Doanya Selalu Aku Amini

Di hari itu, aku membiarkan diriku menjadi sebutir obat dan segelas air putih yang larut di dalam tubuhmu. Mencari kerusakan di dalam sana kemudian berteriak, "Aku benci melihatnya lemah!"

Kita berada pada ranjang yang sama. Tidak melakukan apapun selain berusaha menguatkan. Tidak apa. Kamu diam saja. Cukup aku yang memelukmu. Membiarkan semut-semut berjalan pada kedua tanganku, jangan di tanganmu.

Tidak seperti aku, sakit dan air matamu tidak dapat dihentikan dengan es krim atau iming-iming bertamasya keliling kota. Kamu begitu indah, bahkan dalam kondisi terpayahmu. Berkatalah apapun, akan aku amini semuanya. Termasuk harapan apabila aku lebih bahagia bersama orang lain.

Sampai di sini saja. Katamu, "Jangan ditulis semua!"




-Ruangan Tanpa Cuaca-