Jumat, 09 Oktober 2015

Kepada yang Menatapku Tiada Henti

Kuakui bahwa pada awalnya aku terkesan. Namun terkesan saja rasanya tidak cukup dijadikan alasan untuk mengambil keputusan. Aku ingin bertindak cepat, namun tidak ingin terburu-buru seperti biasanya.

Beberapa waktu ini, kupikir persembunyian adalah langkah yang tepat. Untuk berkaca apakah selayaknya aku ditinggalkan atau diperjuangkan. Tidak bertemu orang-orang, bahkan melalui huruf. Memikirkan pikiran orang-orang masih menjadi hal menakutkan, ternyata.

Aku pernah tertawa sambil menyimpan dendam. Aku banyak bicara sebab sakit hatiku menerima pengabaian seseorang. Barangkali orang yang kupikir ingin menciumku sedang mempersiapkan diri untuk mengigit bibirku. Tiada yang tahu. Atau sahabat yang menangis bersamaku, sedang mempersiapkan liburan tanpaku, di belakangku?

Salah satu alasan orang menulis sebab tidak sanggup menanggung semuanya. Seperti banyaknya kata-kata dan rayuan lelaki di luar sana, yang kutahu tidak lebih indah dari penulis yang tidak ingin disebut penulis. Atau yang memang sangat indah, namun aku tahu sumbernya. Bukankah seharusnya puisi tidak disampaikan oleh penipu?

Tuhan, lukaku belum kering. Kalau seseorang hanya datang untuk membasahi kemudian pergi, kumohon jangan dikirim sekarang.

Selasa, 06 Oktober 2015

Selisih Setahun

Tidakkah kau lihat awan-awan menjadi mudah untuk ditiduri
Atau lautan yang berubah menjadi lantai dansa
Barangkali aku belajar berjalan sambil menunggumu dilahirkan
Atau aku berada di taman kanak-kanak, sedangkan kamu masih harus bersabar

Ini sajak sederhana yang tidak melibatkan kalimat susah
Impianku hanyalah jeda usia yang tidak dihitung
Sebab pertanyaan dan prasangka melarang kita untuk mengakui
Bukankah kebahagiaan hanya dimiliki oleh orang-orang yang berani tidak peduli?

Aku memang bahagia
Namun sayang, kita hidup di negara dengan masyarakat yang suka bertanya
Apakah satu tahun begitu berarti bila ini aku, sedangkan itu kamu?
Apakah satu tahun begitu berarti bila kita sudah diprogram untuk jatuh cinta?

Kamis, 03 September 2015

Matamu Sayu

Aku cukup percaya diri
Untuk menjadi secangkir bahkan bercangkir-cangkir kopi
Yang bisa membuatmu betah bertahan
Juga bisa membuatmu sakit pelan-pelan

Kukatakan tidak rindu
Biar kamu istirahat

Kamu harus menua dengan sehat
Dengan tawa dan tatapan meyakinkan
Bukan untuk aku
Melainkan pasanganmu nanti

Kukatakan tidak rindu
Biar kamu istirahat

Kita pulang tidak terlalu larut
Biar besok pagi harapanku jadi lebih
Tapi tetap saja
Sayu.

Rabu, 01 Juli 2015

Dia
Tinggal di sebuah kota yang minim aturan
Kebebasan milik semua orang
Seakan semua yang di sana sepakat dengan kalimat itu

Setiap perempuan bebas masuk ke kamarnya
Tersenyum dengan alasan pertemanan
Telah menjadi sakit yang biasa aku ikhlaskan
"Kalau sayang harus percaya," katanya

Laki-laki dan perempuan tidak ditakdirkan bersahabat
Salah satunya pasti jatuh cinta
Aku paham betul
Sebab salah satu perempuan itu dulunya aku

Selasa, 30 Juni 2015

Sebelum Juni Berakhir

Tidak ingin panjang lebar sebab 20 menit lagi, bulan Juni segera berakhir.

Aku ingin menyampaikan, kata-kata yang sering kusampaikan sejak pertama kita bertemu. Kadang-kadang bahagia bukan kita yang membuat. Kadang-kadang usia terlalu mengambil peran bagi senyum yang selalu kamu tebar di sebelah kiriku. Kamu menganggap pengakuan begitu berarti sampai melupakan apa yang dirimu mau.

Di atas bulan yang kamu tunggu - yang tentu saja aku juga menunggu sebab kamu paling bahagia di bulan ini - aku mendoakanmu. Setiap malam, tanpa peduli aku berada di atas bulan apa.
Semoga bertambah dewasa, diiringi senyum dan keputusan yang bijak.

Aku masih aku, meski tahu kamu tak selalu kamu.