Minggu, 27 Maret 2016

Upilan

Hadirmu yang selalu tanpa kata
Memenuhi lubang yang kosong
Mungkin sehari sekali, atau sehari dua kali
Ujung jariku menayapamu dengan gerakan yang menyesuaikan

Terkadang dengan penuh rasa bersalah aku membuangmu
Mengingat banyak sekali kenangan yang pernah kita lalui
Di kala senggang, bahkan di tengah kemacetan
Sering kita habiskan berdua
Sebab kamu dan rumahmu adalah kolaborasi menarik
untuk dimainkan sebelum dibuang

Ukuranmu yang tak menentu
Kadang menyenangkan, tapi sering juga mengecewakan
Tak apa karena kamu tak pernah menjanjikan apapun selain tantangan
Tak apa karena kehadiranmu adalah bukti bahwa aku masih bernapas

Kamis, 18 Februari 2016

Ketika Sosial Media Menjauhkan yang Dekat?

Belakangan ini aku dipaksa menyetujui kenyataan yang sekitar dua tahun lalu sangat aku tolak. Menurutku, pernyataan "sosial media menjauhkan yang dekat" adalah kalimat penuh drama yang dimiliki manusia dengan mental korban. Seperti katamu, seperti itulah aku menurutmu. Kamu hanya menilai orang lain berdasarkan cara berpikirmu, tanpa pernah memberi mereka kesempatan menjelaskan. Manusia penuh drama dengan mental korban yang setidaknya hadir di kehidupanmu selama 3 tahun adalah aku. Lebih beberapa bulan sebab beberapa kali kamu mengajakku bertemu pasca lulus.

Aku akui. Sangat aku akui. Aku tergolong sebagai pendatang baru di sosial media. Selayaknya anak kecil yang baru belajar hal-hal baru, hal yang aku lakukan pertama kali adalah meniru orang di sekitarku. Bisa dibilang, keluargaku masih begitu awam tentang sosial media. Jadi orang terdekat yang bisa aku tiru adalah teman-temanku. Teman-teman yang ada di sekitarku saat aku baru mengenal sosial media. Bahasa dan topik yang aku gunakan tidak jauh dari apa yang sudah aku baca, tentu saja.

Beberapa waktu lalu kita bertemu. Bercakap panjang, kemudian melanjutkan beberapa percakapan yang lain melalui via teks. Sampai pada suatu hari, aku berniat mengunggah foto kita yang sudah aku susun dengan sangat baik ke akun instagramku. Karena ada kamu di sana, rasanya tidak lengkap apabila aku tidak menandai akunmu. Mengingat beberapa kali kamu sering menandai fotoku. Iya, aku suka meniru tingkah lakumu di sosial media. Tapi aku merasa ada yang salah saat itu. Beberapa kali aku tidak menemukan akunmu.

Aku memiliki 2 akun instagram yang ternyata keduanya sudah kamu blokir entah sejak kapan. Bila temanku tidak memberitahu, saat itu aku pasti mengirimimu pesan teks dengan mengatakan bahwa akun instagrammu sedang di-hack orang tidak bertanggung jawab. Aku tidak tahu hal-hal seperti itu. Bahkan ketika seseorang tidak menyukaiku, aku tidak tahu bila tidak diberitahu.

Pikiranku melayang, membayangkan hal terakhir apa yang aku lakukan hingga membuatmu seperti ini. Aku masih bertanya-bertanya, mengingat-ingat percakapan terakhir kita, dan mencari-cari kesalahan yang sudah aku perbuat. Apa yang salah hingga kamu memblokir akunku? Ini bukan kejutan. Ulang tahunku masih jauh.

Aku putuskan untuk membuka twitter. Kemudian menyadari bahwa kamu dan teman dekatmu membicarakan hal yang serupa. Yaitu tentang meniru, copy, dan list following. Aku menebak-nebak. Apakah karena itu kamu sampai hati memblokir akunku? Apakah karna menurutmu aku suka meniru semua yang kamu lakukan? Atau karena list following-ku tidak se-uptodate punyamu? Iya. Seperti katamu, seperti itulah aku menurutmu.

Kamu tidak pernah mengingatkan apa salahku. Apa dari dalam diriku yang tidak kamu sukai. Kamu hanya menjauhiku, kemudian menyindirku, dan aku mulai menebak-nebak. Bila menurutmu aku adalah peniru, aku akan menganggap itu sebagai upayaku agar bisa lebih bergaul dengan kamu. Tapi dulu kamu pernah marah ketika ada yang mengatai bahwa gambar yang kamu buat meniru gambar yang ada di Pinterest. Tapi kenapa sekarang kamu mengataiku sebagai peniru? Hal yang membuatmu marah, seharusnya tidak kamu lakukan terhadap orang lain.

Setiap orang memiliki hak, dengan siapa dia ingin berinteraksi. Bila alasanmu adalah menganggapku sebagai peniru, aku akan menjadi orang yang sangat menyesal dengan apa yang sebelumnya terjadi. Tapi yang aku pikirkan sekarang, kamu tidak benar-benar mengataiku sebagai peniru. Kamu hanyalah orang yang gelisah. Sebab manusia awan dengan mental drama yang kamu maksud, yang kamu anggap meniru kamu, sekarang jauh lebih baik dari kamu. Tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain "ikut menjauh seperti yang kamu lakukan" dan "berpikir positif untuk diriku".

Terus terang, aku mulai mencari ekspresi terbaik dan tingkah laku paling bijaksana saat bertemu denganmu suatu hari nanti. Apa kata teman kita yang lain nanti? Mereka akan menganggapmu sebagai perempuan yang penuh musuh. Satu angkatan tahu kalau kamu sering bertengkar dengan sahabat terdekatmu tanpa alasan yang jelas.

Apakah aku peniru? Bila memang iya, seharusnya kamu adalah orang yang membantuku mencari jati diri. Apakah aku peniru? Barangkali aku memang sedikit terlambat menemukan jati diri dan keinginanku. Apakah aku peniru? Bila aku tidak menirumu, kita akan berbeda dan kamu akan memusuhiku. Aku paham betul bahwa kamu membenci orang yang tidak sependapat denganmu. Bahkan kamu benci ketika list following di sosial mediaku tidak sama denganmu. Apakah aku peniru? Untuk beberapa hal kita memang memiliki selera yang sama. Seharusnya kita bisa hidup rukun untuk hal itu. Di dunia ini ada ragam kegiatan dan gaya hidup. Banyak juga orang dengan berbagai karakter. Bila ada orang yang sama denganmu kemudian kamu menghakimi dia sebagai penirumu, seharusnya pencipta bahasa marah karena banyak yang menirunya.

Ketika sosial media menjauhkan yang dekat? Sepertinya aku salah tangkap. Aku baru sadar kalau sebenarnya dulu kita tidak benar-benar dekat.

Jumat, 29 Januari 2016

Jangan Salah, Sayang

Jangan salah
Sebab saran yang kamu sampaikan di hadapan orang banyak
bukan lagi berarti saran
Melainkan kamu sedang membuka aib seseorang

Jangan salah
Sebab saran yang disampaikan di belakang orang yang ingin kamu beri saran
bukan lagi berarti saran
Melainkan kamu sedang bergunjing

Jangan salah
Sebab saran yang disampaikan dengan kata-kata kasar
bukan lagi berarti saran
Melainkan kamu sedang mengumpat

Jangan salah
Sebab saran yang kamu sampaikan dengan merekam kemudian membagikan ke media sosial
bukan lagi berarti saran
Melainkan kamu sedang butuh kasih sayang

Ini bukan puisi benci, sayang
Ini adalah jawaban kasih sayang yang kamu butuhkan

Jumat, 01 Januari 2016

My Biggest Lesson from 2015 is...

Ini foto di B29 (barangkali ada yang nanya)

Bismillah. 
Ehm. Sebenernya tulisan ini bertujuan untuk menjawab mention sekaligus tantangan dari kakak tingkat, mbak Ucik, di facebook. Agak seneng sebenernya waktu mbak Ucik nge-mention aku dan menganggap bahwa aku ini "blogger". Whehehehee. Itu aku baca mention-nya pas lagi makan  di luar bareng keluarga. Munculnya notif yang tiba-tiba, sangat membuat shock. Mellow. Dan baper. Ini pertama kalinya ada yang manggil aku "blogger". Daebak! Biasanya aku dijuluki perempuan tukang drama, tukang galau, tukang baper, tukang bangunan, duh.

Jadi untuk memenuhi undangan (cie undangan) #MMKmenulis yang bertema "WHAT WAS YOUR BIGGEST LESSON FROM 2015?" maka dengan ini saya memutuskan untuk berbagi tentang pelajaran paling berharga selama 2015 - dan tentu saja beserta efek apa untuk 2016. Yak. Kira-kira begitu.

--------------------------------------------------------------------


"Bila ingin menjadi yang terbaik, yang diperlukan hanyalah berlaku baik untuk sekitar."

Pelajaran paling berharga selama 2015 ada di kalimat itu. 365 hari yang aku habiskan dengan kuliah, main, blogging, stalking, mengkhayal, nulis puisi, baca puisi, nonton drama, nangis, menikmati senyummu, jatuh cinta, dll, menghasilkan kalimat sesederhana itu.

Tantangan paling mencolok di 2015 adalah tugas akhir dan tanggung jawab pasca lulus. Apakah kamu berhasil lulus tepat waktu, dan jawaban apa yang kamu siapkan untuk pertanyaan "kapan nikah?" "kerja di mana?". Di tahun 2015, entah kenapa aku merasa bahwa pertanyaan orang-orang lebih menyeramkan ketimbang pertanyaan dosen penguji di ruang sidang. Orang-orang di 2015 cenderung menanyakan hal-hal yang bahkan mereka sudah tahu jawabannya.

Di tahun 2015 aku lulus. Iya. Aku beserta teman satu jurusan berhasil memecahkan rekor karena untuk pertama kalinya jurusan kami berhasil lulus 100%. Di tahun 2015 aku juga kerja. Walaupun ini bukan pertama kalinya aku menghasilkan uang, tapi terus terang, aku ngerasa lebih gampang menjawab kalau ada yang nanya "kerja di mana?". Belum lagi kalau ada yang tanya "Nganggur berapa lama selepas wisuda?". Duuuhh yaaaa.., mau aku jawab "Lek takok ojok sak oyot-oyot e" atau "Iki takok ta kuis?", tapi aku sadar kalau aku bukan lagi anak SD yang selalu merasa lega setelah bikin orang cegek.

Tapi sebenernya, yang paling penting di 2015 bukan pada pencapaian "aku lulus". Melainkan "Bagaimana aku bisa lulus?" "Apa sajakah yang aku lakukan demi lulus?" "Apakah ada yang sakit hati saat aku lulus?" "Berapa jumlah orang yang aku buat menangis sedih dalam kelulusanku?".

Benar sekali. Dulunya aku tidak pernah menyangka. Tekanan-tekanan dari sejumlah pihak terkadang lebih berat dari syarat lulus itu sendiri. Terkadang tanpa disadari, cara menjadi pemenang adalah dengan membuat yang lain terjatuh. Saat terjatuh, yang dibutuhkan bukan hanya obat luka --- melainkan obat penghilang dendam. Ya, begitulah yang aku dapat. Ketika orang-orang yang seharusnya semakin dekat di saat tersulitku, justru menjadi begitu asing. Bahkan sampai tulisan ini dibuat, aku belum dijelaskan mengapa di 2015 karakter-karakter itu harus muncul. Di sekitarku, dan di senyum-senyum orang yang seharusnya bisa diajak berjuang bersama. Sedih. Tega. Aku tuh nggak bisa diginiin.

Semakin dewasa, seseorang akan semakin tahu bahwa ada tanggung jawab setelah kata-kata dalam pikiran berubah menjadi ucapan. Aku juga sadar, bahwa kehidupan akan jauh lebih berat bila kita terus menerus melakukan kecurangan ataupun menyakiti hati orang lain. Dalah hal apapun, setiap orang harus memilih jalan yang ingin ditempuh. 

Di 2016, 2017, 2018, dan seterusnya... aku dan juga kita semua akan menikmati hal apa saja yang sudah kita lakukan di tahun 2015. Begitupun aku yang akan menikmati hasil lulus dari tempat ini. Apakah aku bisa lulus di dunia luar, atau hanya menjadi pengikut yang masa depannya ditentukan orang lain? Atau yang lulus namun masih harus membalas kesalahan di masa lalu? Karena ijazah hanya ijazah. Predikat "lulus" sebenarnya hanya kita yang tahu.

Setiap orang boleh berlaku seakan-akan menang. Namun diri sendiri sangat tidak bisa dibohongi.

-----------------------------------------------------------

Selamat menjalani 2016.
Tahun ini ada 366 hari, lho. Lebih banyak sehari dari tahun 2015.
Semoga lebih bijaksana.
Salam.

Minggu, 27 Desember 2015

Setengah Tidur Setengah Bangun

Di sebuah garis aku berjalan. Merasakan kebahagiaan dan kejutan di setiap langkah. Kuperlambat langkahku untuk menikmati, kupercepat langkahku untuk menemukan cerita selanjutnya. Sebelum pada akhirnya aku berhenti karena takut jatuh.

-----------------------------------------------------------------------------

"Tolong bangunkan aku, Tuhan. Ini terlalu indah. Cukupkan saja sampai sini."

Dia tersenyum seperti biasa. Matanya menyipit, bersamaan dengan hidungnya yang mengembang. Aku sedikit jago mengatur gengsiku. Padahal bila dia lebih teliti, sebenarnya hasratku untuk memeluknya sangat tidak terbendung.

"Mimpi suka datang sembarangan. Apabila sekarang Kau menggantinya dengan seseorang yang lebih masuk akal, aku tidak akan terlalu terkejut."

Dia memanggil pelayan kemudian memilih makanan dan minuman sebelum menawariku. Itu perilaku wajar sebenarnya. Teman laki-lakiku sering melakukannya. Tapi entah dari mana, tiba-tiba saja aku merasa bahwa dia seperti aktor di drama Korea favoritku. Terutama cara dia duduk. Caranya meletakkan kaki kanan di atas kaki kiri sangat sempurna. Lebih sempurna bila aku bisa bertumpu di sana juga, barangkali.

Aku memegang menu - tentu saja setelah menikmati caranya menawariku, menaikkan alisnya, dan... oh, iya, tangan kami sempat bersentuhan. Pilihan makanannya tidak begitu banyak. Tapi aku sengaja memperlama keputusanku biar dia menungguku. Memperlama keputusan, biar dia menungguku. Iya, biar dia menungguku. Oke, aku mulai licik.

"Tuhan, kenapa aku tidak dibangunkan sekarang?"

Tiba-tiba aku sekarang ada di tempat tidur - tanpa dia beserta aromanya yang pas. Syukurlah. Ini akan menjadi beban menyenangkan bila dia juga di tempat tidurku. Namun suaranya keluar dari ponsel. Bukan hanya suara, wajahnya juga. Aku sadari ini video call. Layaknya pasangan LDR, aku menikmati pengalaman pertamaku. Pasangan? Oke, aku mulai lancang.

"Tuhan, haruskah sebelum tidur aku tidak perlu lagi berharap mimpi indah? Aku takut sakit kalau bangun."

Cerita, tawa, rencana liburan, nasehat, sedikit rayuannya, besar harapanku, senyumnya yang memabukkan, dan hatiku yang selalu pasrah, berhasil kami tebar sepanjang percakapan dua jam itu. Aku tenggelam dalam halusinasi remaja 13 tahun, yang percaya-percaya saja bila ada yang memuji.

Juga panggilannya untukku yang mulai berubah. Terus terang, aku tidak bisa santai untuk hal ini. Pikiranku tidak bisa bila tidak berpikir macam-macam. Dulu kami berbicara dengan bahasa yang terlalu resmi. Seakan-akan usiaku terlampau jauh di atasnya. Ditambah lagi dia yang selalu menyebut dirinya "saya".

"Akhirnya aku menikmati tidur panjang dan mimpi indahku. Jadi biar begini saja."

Sudah sebulan dia tidak menghubungiku. Apakah dia sakit, ada masalah, atau terpenjara di hutan? Tapi di zaman serba canggih seperti ini, hutan mana yang tidak menyediakan wifi? Semoga Tuhan tidak menganggap kekhawatiranku sebagai doa-doa yang dikabulkan.

Panjang umur. Ada panggilan telepon darinya yang aku jawab dengan berusaha untuk tidak tergesa-gesa, namun juga tidak terlalu lama. Di seberang sana, entah di belahan bumi bagian mana, dia berkata, "Hei.., apakah sedang sibuk? Saya butuh bantuan."

"Jadi sebenarnya, Tuhan, cerita yang terlalu panjang ini, adalah mimpi indah, prasangkaku yang berlebihan, atau kebahagiaan yang aku takutkan tidak berlangsung lama? Kuberserah pada-Mu, untuk membangunkanku, atau melanjutkan mimpi indahku."